Tuesday 5 August 2008

Presiden SBY di BB Padi: Suatu Saat Indonesia Menjadi Lumbung Padi Dunia.

Itulah mimpi negeri kita, sebagaimana disampaikan oleh para petingginya, ketika menghadapi produksi di dalam negeri yang berlimpah. Ada yang menyebutnya sebagai mimpi di siang bolong, mengingat ketahanan pangan kita selama ini masih jauh dari batas aman.

Tetapi satu hal yang harus dicatat, impian adalah sebuah keinginan yang hendak diraih. Kelak terwujud atau tidak, tentu ada banyak faktor yang menjadi syarat maupun prasyaratnya. Indonesia pernah meraih penghargaan sebagai negara swasembada pangan dan mengekspor surplus produksi beras dalam negeri, rasanya tidak ada salahnya kita punya mimpi kembali ke masa itu.

Apakah Indonesia mampu jadi eksportir beras ? Salah satu syarat mutlak untuk membuka kran ekspor beras ke luar negeri, adalah angka stok beras nasional mencapai 3 juta ton. Dalam perjalanan waktu sejak reformasi, angka stok nasional ini belum pernah tercapai.

Surplus beras saat ini tidak dihasilkan melalui mekanisme produksi yang baku sehingga kita tidak bisa menjaga stabilitas hasil sepanjang tahun. Jika pemerintah ingin melibatkan swasta ikut berkontribusi bagi peningkatan produksi beras nasional, sebaiknya pemerintah memberi ijin dan melibatkan swasta membuka lahan di luar Pulau Jawa secara besar-besaran. Seperti di Merauke yang luasnya sekitar 580 ribu ha atau dua kali luas jalur pantura Jawa Barat.

Artinya, tidak salah kita bermimpi menjadi negara pengekspor beras. Tetapi semua itu harus didasarkan pada kondisi realistis kebutuhan kita mengingat beras adalah komoditi strategis yang tidak bisa diperlakukan sama dengan komoditi perdagangan lain. Terlalu riskan hanya bersandar pada angka stok nasional karena begitu kita membuka kran ekspor dan kemudian kita defisit produksi, maka suka atau tidak suka kita harus mengikuti harga internasional melalui impor. Siapkah kita untuk meghadapi risiko semacam itu?

No comments: